asset bank syariah nasional


1. Berapa persen asset bank syariah nasional?

Dengan telah diberlakukannya Undang-Undang No.21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah yang terbit tanggal 16 Juli 2008, maka pengembangan industri perbankan syariah nasional semakin memiliki landasan hukum yang memadai dan akan mendorong pertumbuhannya secara lebih cepat lagi. Dengan progres perkembangannya yang impresif, yang mencapai rata-rata pertumbuhan aset lebih dari 65% pertahun dalam lima tahun terakhir, maka diharapkan peran industri perbankan syariah dalam mendukung perekonomian nasional akan semakin signifikan. Bank Indonesia telah menproyeksikan pertumbuhan perbankan syariah nasional pada tahun 2010 menjadi 3 skenario pertumbuhan, yaitu skenerio pesimis, moderat dan optimis. Namun skenerio ini perlu dianalisis secara realistis dan faktual, sehingga ditemukan angka yang paling mendekati realita. 1) Skenario Proyeksi Pesimis : • Menurut skrenerio ini, pertumbuhan berlangsung secara organic yang diproyeksikan sebesar 26% dengan total asset 72 triliun. Proyeksi ini didasarkan pada beberapa indikator, seperti recovery ekonomi domestik dan global. Pemulihan makroekonomi ini, diasumsikan akan mendorong pertumbuhan perbankan syariah. Indikator lainnya adalah semakin massifnya keberhasilan edukasi publik dan promosi perbankan yang dilakukan baik oleh Bank Indoensia sendiri, bank-bank syariah dan organisasi assosiasi seperti IAEI (Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia) yang memiliki jaringan luas di seluruh Perguruan Tinggi Indonesia dan MES (Masyarakat Ekonomi Syariah). Pada tahun lalu, Bank Indonesia membuat skenerio pesimis di mana targetnya hanya 57 triliun. Alhamdulillah ternyata, target ini terlampaui, karena asset bank syariah pada akhir 2009 lebih dari 60 triliun. Untuk tahun 2010 diproyeksikan, skenerio pesimis sebesar 72 triliun, juga akan terlampaui. 2) Skenario Proyeksi Moderat : • Menurut skenerio ini pertumbuhan bank syariah diproyeksikan mencapai 43 %, dengan total asset Rp 97 triliun. Proyeksi moderat ini didasarkan pada beberapa indikator, yaitu indikator pada skenerio pertama di atas, juga indikator masuknya investor baru melalui pendirian bank Islam baru, atau membeli dan menyuntikkan modal di bank-bank Islam yang ada. Pada tahun 2010 akan berdiri Bank Umum Syariah yang baru seperti BCA Syariah, Bank Jabar Banten Syariah, BNI Syariah dan Bank Victoria Syariah. Kelahiran bank umum ini dipastikan akan mendongkrak pertumbuhan bank syariah secara signifikan. • Dengan semakin besarnya asset perbankan syariah, maka biaya program promosi bank syariah makin besar, sehingga pengetahuan masyarakat makin meningkat yang pada gilirannya mereka akan memilih bank syariah dalam transaksi perbankan. • UU No 42/2009 yang menghapus Pajak Pertambahan Nilai Murabahah akan mendorong peningkatan kapasitas bank-bank syariah melalui peran investor asing. • Upgrade HR persyaratan baik kuantitas dan kualitas. Semakin banyak Perguruan Tinggi yang melahirkan sarjana Ekonomi Islam yang berkualitas, dan semakin banyak dosen ekonomi Islam yang menyebarkan ekonomi Islam. • Selain itu, sejumlah ulama muda yang memahami ekonomi Islam melalui pendidikan S2 dan S3 akan semakin banyak. Mereka adalah alumni Universitas Timur Tengah yang kuliah S2 dan S3 ekonomi Islam, Mereka akan menjadi da’i-dai yang cerdas tentang ilmu ekonomi dan perbankan Islam. Kehadiran mereka diperkirakan akan menggeser pandangan sempit masyarakat dan tokoh agama yang sering menyamakan bank syariah dengan bank konvensional. Ghirah dan semangat juang mereka demikan tinggi, karena mereka telah memahami secara ilmiah dan empiris betapa riba, gharar dan maysir menjadi punca kehancuran ekonomi dunia dan Indoneaia. 3) Skenario Proyeksi Optimis : • Menurut skenerio ketiga, pertumbuhan bank syariah diproyeksikan mencapai 81 %, dengan total asset Rp 124 triliun. Indikatornya ialah, semua skenario asumsi moderat di atas. Indikator berikutnya ialah insentif kebijakan dan peraturan moneter dan fiskal oleh Bank Indonesia dan Pemerintah. terkait dengan industri perbankan Islam. Indikator lainnya penegmbangan perbankan dan keuangan Islam menjadi program pemerintah, seperti pengelolaan dana haji oleh bank-bank Islam, konversi bank milik Negara menjadi syariah dan penempatan dana daerah di bank milik daerah yang sudah memiliki UUS syariah, Proyeksi ketiga ini sangat sulit tercapai dan masih jauh dari harapan, karena kebijakan pemerintah untuk melakukan konversi bank BUMN menjadi syariah masih jauh api dari panggang. Demikian pula penempatan seluruh dana haji di bank syariah. Kesulitan ini, karena pemerintah belum serius dalam mengupayakan terciptanya ekonomi berkeadilan ini, disebabkan alasan duniawi sempit dan ketidakfahaman mereka tentang economics yang sophisticated ini. Dari tiga skenerio yang dikemukakan di atas, skenerio yang paling mungkin dicapai adalah skenario pesimis, yaitu sebesar Rp 72 triliun. Namun diprediksikan, asset bank syariah akan melampaui angka tersebut, dikarenakan kehadiran empat bank umum syariah baru. Kehadiran bank umum syariah baru ini dipredikasikan akan mendongkrak pertumbuhan asset sebesar Rp 8 sampai 9 triliun. Seandainya bank syariah tumbuh sebesar 20 persen saja (secara organic), tidak termasuk asset 4 bank umum syariah yang alan hadir, diperkiraan asset bank syariah sudah mencapai 72 triliun. Berdasarkan perkiraan itu, maka saya memperkirakan asset bank syariah hanya akan tumbuh menjadi 81 triliun di akhir Desember 2010 mendatang. Dengan demikian, skenerio moderat yang dibuat Bank Indonesia, yaitu 97 triliun masih jauh, apalagi skenerio optimis, tentu makin jauh panggang dari api. Bank Syariah Mandiri juga membuat tiga skenerio perrtumbuhan bank syariah, Pertama skenerio affordable yaitu sebesar 85 triliun, Kedua skenerio moderat, 89 triliun dan ketiga skenerio aggressif sebesar 95 triliun. Dari tiga skenerio tersebut yang paling mungkin terjangkau (affordable) ialah skenerio pertama, di mana asset bank syariah bertengger di angka Rp 85 triliun, Namun menurut saya angka inipun tidak akan tercapai, karena persentase pertumbuhan bank syariah diperkirakan 30-35 % saja. Sedangkan, jika asset bank syariah 85 triliun, itu berarti pertumbuhan bank syariah lebih dari 40 %.

2. Diantara Pembiayaan yang disalurkan, produk jasa apa yang paling banyak ?

Bentuk utama produk bank syariah terutama menggunakan pola bagi hasil, sesuai dengan karakteristiknya. Selain pola bagi hasil, bank syariah juga mempunyai produk-produk pendanaan dan pembiayaan dengan pola non-bagi hasil. Dalam produk pendanaan, bank syariah dapat juga menggunakan prinsip wadi’ah, qardh, maupun ijarah. Dalam produk pembiayaan, bank syariah dapat juga menggunakan pola jual beli (dengan prinsip murabahah, salam, dan istishna) dan pola sewa (dengan prinsip ijarah dan ijarah wa iotina). Selain itu, bank syariah juga menyediakan berbagai produk jasa perbankan berupa jasa keuangan, jasa nonkeuangan, dan jasa keagenan. Produk-produk jasa keuangan yang ditawarkan antara lain wahalah, kafalah, hiwalah, rahn, qardh, sharf, dan ujr. Produk-produk jasa nonkeuangan yang ditawarkan antara lain wadi’ah yad amanah (safe deposit box (kotak penitipan barang). Sementara itu, produk jasa keagenan yang ditawarkan antara lain mudharabah muqayyadah (investasi terikat). Produk-produk bank syariah tidak terlepas dari jenis akad yang digunakan. Jenis akad yang digunakan oleh suatu produk biasanya melekat pada nama produk tersebut. Sebagai contoh, tabungan wadi’ah berarti produk tabungan yang menggunakan akad wadi’ah. Hal ini berarti segala ketentuan mengenai akad wadi’ah berlaku untuk produk tabungan ini. 3. Pembiayaan Macet Perbankan syariah bersikap lebih hati-hati dalam melakukan pembiayaan untuk mencegah meningkatnya angka nonperforming finance (NPF). Angka NPF perbankan syariah di November 2008 pun tercatat 4,97 persen, meningkat dibanding Oktober 2008 yang sebesar 4,49 persen. ”Ketika ekonomi turun, bank menahan ekspansi pembiayaan,” kata Alfi, Rabu (14/1). NPF pun meningkat karena pembiayaan yang diberikan tak diikuti oleh ekspansi. Saat ekonomi kurang kondusif, pembiayaan pun akan tertahan. Sementara itu, komposisi pembiayaan perbankan syariah saat ini masih didominasi oleh murabahah (jual beli) di atas 50 persen. ”Karena pembiayaan sekarang lebih dari 50 persen masih murabahah, bank juga akan mencoba menahan,” kata Alfi. Pasalnya, ketika margin antara nasabah pembiayaan dan bank telah disepakati, jumlah tersebut tak boleh berubah. Menurut Alfi, hal itu merupakan keunggulan dan kelemahan bank syariah. Ketika bunga kredit di bank konvensional naik, perbankan syariah tidak bisa menaikkan margin yang telah ditetapkan sebelumnya. Saat kondisi ekonomi bagus, pembiayaan dengan akad murabahah pun akan sejalan. Namun, saat kondisi kurang bagus, maka bank syariah harus berusaha lebih keras. Meski demikian, diperkirakan pembiayaan dengan akad tersebut pun akan masih mendominasi. Meski murabahah dominan dalam pembiayaan, bukan berarti penyumbang terbesar dalam angka rasio pembiayaan bermasalah. ”Itu semua tergantung dalam bank mengelola risiko,” kata Alfi. Ia menambahkan akad musyarakah dan mudharabah yang berdasar bagi hasil pun patut untuk dikembangkan Namun, perhitungan perbandingan antara realisasi dan proyeksi sektor usaha yang dibiayai harus dilakukan dengan hati-hati. Berdasarkan data publikasi BI per November pembiayaan murabahah sebesar 58,76 persen, sementara musyarakah sebesar 19,10 persen dan mudharabah 16,71 persen. Untuk itu perbankan syariah pun harus lebih selektif dalam memilih usaha yang dibiayai agar tidak membuat NPF semakin tinggi. ”Dalam kondisi saat ini sektor mikro dan konsumer yang bisa bertahan terhadap krisis dibanding korporasi,” kata Alfi. Saat kondisi ekonomi masih tak pasti, tambahnya, pembiayaan ke korporasi akan agak tertahan. Untuk melakukan pembiayaan ke sektor mikro pun, tambah Alfi, perbankan syariah harus menyiapkan infrastruktur yang memadai. Pasalnya, pembiayaan ke sektor mikro tak terlalu besar, namun jumlahnya sangat banyak. Sementara, pembiayaan korporasi memang memiliki nilai cukup besar, namun saat terjadi krisis dampaknya juga akan sangat terasa. Untuk itu jika perbankan syariah ingin membiayai proyek bernilai besar, sejumlah bank bisa melakukan sindikasi. ”Sindikasi bisa menjadi solusi jika mau main di proyek yang besar,” ujar Alfi. Dengan melakukan sindikasi, maka risiko bank akan terbagi. Namun, dengan catatan proyek tersebut merupakan proyek yang cukup aman, seperti proyek infrastruktur pemerintah, maupun proyek swasta yang memiliki nominal besar. Sementara itu, pembiayaan unit usaha syariah (UUS) Bank Jabar sekitar 55 persen menggunakan akad musyarakah, sementara sisanya akad murabahah. Kepala Divisi Syariah Bank Jabar, Rukmana mengatakan angka NPF sebagian besar disebabkan oleh pembiayaan dengan akad musyarakah. ”Bagi hasil dengan akad musyarakah fluktuatif tergantung dari kemajuan usaha yang dibiayai, sehingga ada beberapa yang tak sesuai dengan ekspekstasi,” kata Rukmana. Tercatat di 2008 angka NPF Uus Bank Jabar sebesar 1,17 persen. Untuk mencegah meningkatnya angka NPF, maka UUS Bank Jabar melakukan penjadwalan ulang pembiayaan. Selain itu jika nasabah tidak mampu membayar, walau sudah diberi modal maka nasabah dan bank menyepakati untuk menjual unit usaha tersebut. Saat ini beberapa unit usaha pun sudah dijual khususnya sektor industri. Pembiayaan dengan akad musyarakah Bank Jabar disalurkan ke sektor perdagangan, industri, dan konstruksi. Di akhir 2008 divisi syariah Bank Jabar mencatat aset sebesar Rp 743 miliar, DPK Rp 290 miliar, dan laba sebelum pajak Rp 23,3 miliar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: